Haul Sultan Siak ke-60, Bupati Afni Ajak Masyarakat Lestarikan Sejarah Kesultanan
Pemkab Siak menggelar Haul Sultan Siak ke-60 Tahun 2026. Bupati Afni mengajak masyarakat melestarikan sejarah Kesultanan Siak, mengenang jasa Sultan Syarif Kasim II, serta memperkuat nilai budaya Melayu dan keagamaan.
SIAK, LINTASTIMURMEDIA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak kembali meneguhkan komitmennya dalam menjaga warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keislaman melalui penyelenggaraan Haul Sultan Siak ke-60 Tahun 2026 yang berlangsung khidmat di Halaman Panggung Siak Bermadah, Sabtu malam (11/7/2026).

Agenda tahunan yang telah menjadi tradisi masyarakat Melayu Siak tersebut tidak sekadar menjadi prosesi mengenang wafatnya para Sultan Siak, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kesadaran sejarah, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Melayu, serta menghidupkan kembali semangat perjuangan para pemimpin Kesultanan Siak yang telah memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ribuan masyarakat bersama unsur Pemerintah Kabupaten Siak, Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen lainnya memadati lokasi kegiatan. Suasana religius terasa begitu kental melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an, doa bersama, serta pembacaan kalimat-kalimat tauhid yang dipanjatkan untuk para Sultan Siak.
Bupati Siak Afni mengatakan, penyelenggaraan Haul Sultan Siak bukan hanya menjadi tradisi keagamaan yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa besar para Sultan yang telah membangun fondasi peradaban Melayu, memperjuangkan agama Islam, serta memberikan sumbangsih nyata bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Menurutnya, para Sultan Siak telah meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa bangunan bersejarah, melainkan juga nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan kecintaan terhadap tanah air yang wajib terus diwariskan kepada generasi penerus.
"Haul Sultan Siak ini merupakan bentuk pengingat sekaligus ucapan terima kasih kepada para Sultan Siak yang telah berjasa bagi agama, nusa, dan bangsa, khususnya Kabupaten Siak, melalui doa bersama dan lantunan kalimat tauhid," kata Afni dalam sambutannya.
Diawali Ziarah Kubro ke Makam Sultan Siak
Sebelum memasuki malam puncak haul, Pemerintah Kabupaten Siak bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para ulama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta jajaran pemerintah daerah terlebih dahulu melaksanakan Ziarah Kubro ke Kompleks Makam Koto Tinggi dan Kompleks Makam Sultan Syarif Kasim II.
Prosesi ziarah berlangsung penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap para pemimpin Kesultanan Siak yang telah mengabdikan hidupnya bagi agama, masyarakat, dan negeri.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib Sultan Syarif Kasim II oleh Habib Muhammad Taufiq bin Aqil Assegaf yang mengulas perjalanan hidup, keteladanan, serta perjuangan Sultan terakhir Kesultanan Siak tersebut.
Suasana religius semakin terasa melalui tausiah yang disampaikan Habib Sayyid Reza Banahsan, sementara kegiatan juga dihadiri Habib Muhammad Azhar bin Alwi Assegaf yang turut memberikan nuansa spiritual dalam pelaksanaan haul.

Istana Siak Jadi Simbol Peradaban Melayu
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afni mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga memori kolektif terhadap sejarah panjang Kesultanan Siak Sri Indrapura, termasuk keberadaan Istana Siak Asserayyah Hasyimiah yang hingga kini tetap berdiri megah sebagai salah satu ikon sejarah dan kebanggaan masyarakat Melayu di Indonesia.
Menurut Afni, istana yang dibangun oleh para Sultan Siak merupakan warisan peradaban yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi. Bangunan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang Kesultanan Siak sekaligus pusat pembelajaran sejarah bagi generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

"Istana Siak dibangun tanpa beliau mengetahui apakah suatu saat nanti kita akan mengingat jasa-jasa beliau. Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenang para Sultan Siak dan mengirimkan doa terbaik bagi mereka," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian sejarah tidak boleh berhenti pada pemeliharaan bangunan fisik semata, tetapi juga harus diwujudkan melalui upaya menjaga nilai-nilai perjuangan, adat istiadat, budaya Melayu, serta semangat nasionalisme yang diwariskan para Sultan Siak kepada bangsa Indonesia.
Menanamkan Kesadaran Sejarah kepada Generasi Muda
Lebih lanjut, Afni menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menanamkan kecintaan terhadap sejarah kepada generasi muda di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap Sultan Syarif Kasim II, Pemerintah Kabupaten Siak telah menginstruksikan pemasangan foto Sultan Syarif Kasim II di seluruh ruang publik sebagai media edukasi sekaligus pengingat akan jasa besar beliau terhadap bangsa.
Tidak hanya itu, Pemkab Siak juga mewajibkan Mars Kabupaten Siak dinyanyikan dalam setiap kegiatan seremonial setelah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebagai bagian dari penguatan identitas daerah serta kecintaan terhadap sejarah lokal.
"Sebagai anak cucu Siak, kita memiliki utang sejarah yang besar. Jangan sampai kita maupun anak cucu kita melupakan sejarah," tegas Afni.
Sultan Syarif Kasim II dan Kontribusi Besarnya bagi Kemerdekaan Indonesia
Bupati Afni juga mengingatkan bahwa hingga kini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami besarnya kontribusi Kesultanan Siak dalam perjalanan sejarah nasional.
Menurutnya, Sultan Syarif Kasim II telah menunjukkan teladan kepemimpinan luar biasa dengan rela menyerahkan tahta kerajaan beserta kekayaan Kesultanan Siak untuk mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengorbanan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah bangsa yang harus terus dikenalkan kepada masyarakat luas agar tidak hilang ditelan zaman.
"Kita memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan Republik ini bahwa pernah ada seorang Sultan yang rela menyerahkan harta dan tahtanya demi kemerdekaan Indonesia," ujar Afni.
Ia berharap semangat pengorbanan, nasionalisme, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan Sultan Syarif Kasim II dapat terus menginspirasi seluruh generasi Indonesia, khususnya masyarakat Kabupaten Siak.

Memperkuat Syiar Islam dan Kebersamaan Masyarakat
Selain menjadi ajang pelestarian sejarah Kesultanan Siak, penyelenggaraan Haul Sultan Siak ke-60 juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Siak dalam memperkuat syiar Islam serta mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.
Afni menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong agar berbagai kegiatan keagamaan dikemas secara lebih menarik, inklusif, dan mampu menghadirkan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan keagamaan harus menjadi ruang kebersamaan yang mampu memperkuat nilai spiritual, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga identitas religius masyarakat Melayu Siak yang selama ini dikenal kuat memegang nilai adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.

"Kami akan terus berupaya agar setiap kegiatan keagamaan mampu menarik seluruh lapisan masyarakat. Jangan hanya kegiatan yang bersifat duniawi yang ramai, tetapi kegiatan keagamaan juga harus menjadi ruang berkumpul masyarakat," ucapnya.
Melalui penyelenggaraan Haul Sultan Siak ke-60 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Siak berharap semangat perjuangan para Sultan Siak tidak hanya dikenang dalam seremoni tahunan, tetapi juga terus hidup dalam sikap, karakter, dan tindakan generasi penerus. Dengan menjaga sejarah, melestarikan budaya Melayu, serta menguatkan nilai-nilai religius dan nasionalisme, Kabupaten Siak diharapkan tetap menjadi salah satu pusat peradaban Melayu yang berkontribusi bagi kemajuan daerah, bangsa, dan Indonesia secara keseluruhan.

(Agi/MC Siak)























